oleh: Aunur Rafiq
Saleh
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ
فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا
يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka
(musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita
kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat
mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa': 104)
Ada banyak faktor
yang diperlukan untuk meraih kemenangan dalam perang. Diantaranya persenjataan,
pasukan, logistik, strategi dan moral. Moral atau mental menjadi faktor paling
penting. Tidak ada gunanya persenjataan canggih dan modern bila moral dan
mental pasukan rendah, pengecut dan mudah runtuh.
Banyaknya jumlah
pasukan tidak menjamin kemenangan. Al-Quran menyebutkan betapa banyak pasukan
kecil mengalahkan pasukan besar. Firman Allah:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً
بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar
dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar".
(QS. al-Baqarah: 249)
Mental dan moral
pasukan muslim seharusnya lebih unggul dari moral dan mental pasukan musuh.
Karena memiliki keimanan dan harapan kepada Allah. Sesuatu yang tidak dimiliki
pasukan musuh, sebagaimana disebutkan ayat di atas. Ada 2 harapan kepada Allah
yang membentuk moral dan mental pasukan muslim hingga menjadi sangat kuat,
tangguh dan militan.
Pertama, keimanan dan harapannya yang sangat
kuat kepada pertolongan dan kemenangan dari Allah. Pasukan muslim sangat yakin
Allah akan menolong dan memberikan kemenangan, karena mereka berperang atas
nama-Nya, karena mencari ridha-Nya dan untuk membela agama-Nya.
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ
أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Pasukan muslim
yakin Allah tidak akan membiarkannya. Bahkan meyakini, semakin terdesak
posisinya hingga tidak ada sesuatu pun yang bisa diandalkan untuk memenangkan
pertempuran, baik senjata yang memadai atau pun dukungan manusia, kecuali hanya
berharap kepada Allah, maka semakin dekat datangnya pertolongan Allah. Bila
pertolongan Allah datang maka tidak ada kekuatan besar yang bisa mengalahkannya
:
مَسَّتْهُمُ
الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
"... Mereka ditimpa kemelaratan,
penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah?
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS.
Al-Baqarah: 214)
Karena mereka
mengimani dan meyakini bahwa kemenangan hanya dari Allah semata, bukan karena
persenjataan, logistik, strategi dan jumlah personil. Firman Allah :
وَمَا
النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ
"... Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang
Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Ali 'Imran: 126)
Karena itu,
sesulit apa pun kondisi yang dihadapi, mereka tidak pernah menyerah dan putus
asa. Karena iman dan harapan mereka kepada Allah sangat kuat sehingga membuat
mereka kuat.
Kedua, keimanan dan harapannya kepada
pahala, ampunan, rahmat dan surga yang dijanjikan Allah di akhirat juga sangat
kuat sehingga mental dan moralnya sangat kuat, tangguh dan tidak mudah runtuh.
Dalam kamus
perjuangan mereka hanya ada dua kata. Kedua-duanya baik dan membuat mental dan
moralnya sangat kuat, tangguh dan militan. Yaitu menang atau mati syahid.
Firman Allah :
قُلْ
هَلْ تَرَبَّصُوْنَ بِنَآ اِلَّآ اِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِۗ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ
بِكُمْ اَنْ يُّصِيْبَكُمُ اللّٰهُ بِعَذَابٍ مِّنْ عِنْدِهٖٓ اَوْ بِاَيْدِيْنَاۖ
فَتَرَبَّصُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ مُّتَرَبِّصُوْنَ
"Katakanlah (Muhammad), Tidak ada yang kamu
tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati
syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab
kepadamu dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah,
sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu." (QS. At-Taubah: 52)
Keimanan dan
harapan kepada Allah itulah yang menjadikan moral dan mental para pejuang
muslim sangat kuat, tangguh dan militan. Tidak ada kesulitan apa pun dalam
perjuangan yang bisa membuat mental mereka runtuh. Karena moral dan mental
mereka sangat unggul. Firman Allah :
وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَ
نْتُمُ الْاَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula)
bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang
beriman." (QS.
Ali 'Imran: 139)
Makin ditekan dan
dikepung makin optimis menang dan mendapat janji Allah. Firman Allah:
اَلَّذِيْنَ
قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ
فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang
ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, Orang-orang (Quraisy) telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,
ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, Cukuplah
Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung."
(QS. Ali 'Imran: 173)
Mental dan moral
ini menjadi bekal utama untuk mendapatkan kemenangan dari Allah. Apa pun yang
diberikan Allah, menang atau mati syahid, dua-duanya adalah kemenangan dan
baik. Rasulullah saw menyebutkan salah satu gambaran mereka dalam sabdanya
berikut:
لَا يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ
قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ مَا يَضُرُّهُمْ مَنْ كَذَّبَهُمْ وَلَا مَنْ
خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ فَقَالَ مَالِكُ
بْنُ يُخَامِرَ سَمِعْتُ مُعَاذًا يَقُولُ وَهُمْ بِالشَّأْمِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ
هَذَا مَالِكٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاذًا يَقُولُ وَهُمْ بِالشَّأْمِ
"Akan senantiasa ada dari umatku sebuah umat yang menegakkan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang yang mendustakan mereka, tidak pula yang menyelisihi (menentang) mereka hingga keputusan Allah datang kepada mereka sedang mereka masih dalam keadaan seperti itu. Malik bin Yukhamir berkata, Aku mendengar Mu'adz berkata, Dan mereka berada di Syam. Mu'awiyah juga mengatakan, Malik beranggapan bahwa ia mendengar Mu'adz berkata, Dan mereka berada di Syam." (Shahih Bukhari 6906)









